Rabu, 01 Oktober 2014

Pertemuan ke 8: Manusia dan Afektivitasnya dan Kebebasan

Pada hari Jumat, 26 September 2014 mempelajari tentang 

Manusia dan Afektivitasnya. Afektivitaslah yang membuat manusia berada di dunia, berpartisipasi dengan orang lain dan mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif. Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek karena menyukainya, atau berpaling darinya karena menganggapnya buruk.
Cinta merupakan buah afektivitas positif, sedangkan benci itu sebaliknya.

Sikap yang diambil afektivitas berhadapan terhadap obyek yang dianggap berguna subyek mencintainya ini disebut cinta utilitaris/bermanfaat.
Sikap subyek dapat ditentukan secara afektif oleh obyek dibedakan,
Perasaan dan emosi. Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda-beda menurut bagaimana subyek menguasai obeyek. Keadaan afektif yang berbeda-beda ini disebut hasrat-hasrat jiwa (Thomas Aquinas).
Orang bersuasana hati baik bila semua kemampuan bekerja dengan baik.
Kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja tetapi juga menyangkut hal yang spiritual.

Hidup afektif merupakan seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya. Perbuatan afektif berbeda dengan perbuatan mengenal karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada perbuatan mengenal subyek membuka diri pada obyek. Hidup dibawah ‘cara afektif’ kesenangan, bila kita sungguh bersatu dalam perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan merupakan perasaan yang dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh.
Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya mengambil untung dari apa saja.
Tuhan merupakan dasar dalam mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin saya mendekati orang lain, makin saya mendekati Tuhan.


Sesi ke-dua mempelajari mengenai Kebebasan.
Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. Jiwa berhubungan dengan kehendak bebas karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas.

Menurut pandangan determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik
·        Determinisme fisik-biologis
·        Determinisme psikologis
·        Determinisme sosial
·        Determinisme teologis
Kelemahan determinisme:
·        Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia
·        Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
·        Menafikan adanya tanggung jawab

Arti kebebasan, pengertian umum tidak ada hambatan. Tetapi ini bukan kebebasan eksistensial.
Pengertian khusus:
·        Penyempurnaan diri
·        Kesanggupan memilih dan memutuskan
·        Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan

Jenis-jenis kebebasan:
1.       Kebebasan horizontal berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan
2.      Kebebasan vertical berkaitan dengan pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai
3.      Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif
4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
·        Menyertakan pengertian
·        Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
·        Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
·        Terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial
Sejarah perkembangan masalah kebebasan, filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena:
·        Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah nasib. Jadi tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya
·        Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum yang mengaturnya
·        Manusia terpengarus oleh sejarah yang bergerak secara siklis
·        Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
·        Zaman modern, dilihat dari perspektif antroposentrik
·        Era kontemporer, kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial

Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri.


SUMBER:
Dari PPT dosen Universitas Tarumanagara fakultas Psikologi

http://www.anneahira.com/images_wp/makna-kasih-sayang.jpg


2 komentar:

  1. Asik banget buka Blog ini, keren, isinya juga bagus banget, bermanfaat banget deh, kasih 100!!!!!

    BalasHapus