Pada
hari Jumat, 3 Oktober 2014 mempelajari mengenai eksistensialisme menurut
Kierkegaard dan Sartre. Pertama mempelajari mengenai eksistensialisme menurut
Kierkegaard.
Aliran
filsafat yang pokok utamanya adalah manusia
dan cara beradanya yang khas ditengah makhluk lainnya.
Jiwa
eksistensialisme ialah pandangan manusia sbg eksistensi.
Secara
etimologis, ex=
keluar, sistentia (sistere)=berdiri.
Manusia bereksistensi adalah manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan
keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di luar diriku. Hanya manusialah
bereksistensi.
Eksistensialisme
dari segi isi bukan satu kesatuan, tetapi lebih merupakan gaya berfilsafat.
Tokoh yang menganut gaya eksistensialisme salah satunya adalah Kierkegaard dan
Jean Paul Sartre. Satu hal yang sama adalah filsafat harus bertitik tolak pada
manusia konkrit.
Ciri-ciri eksistensialisme,
motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi
(menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan). Manusia
dipandang terbuka contohnya masalah, masalah itu selalu ada dan semakin
bertambah umur semakin ada aja masalah. Manusia terikat pada dunia sekitarnya,
khususnya pada sesamanya.
Soren Aabye Kierkegaard lahir di
Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di Universitas Kopenhagen, tetapi tidak
selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis.
Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme,
aliran filsafat yang berkembang 50 tahun setelah kematiannya.
Pokok-pokok
ajaran Kierkegaard, Ia mengkritik terhadap Hegel karena ada satu hal yang
dilupakan Hegel adalah eksistensi manusia
individual dan konkret. Eksistensi berarti
bagi Kierkegaard yaitu merealisir diri,
mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi
kebebasannya.
Ada
tiga cara bereksistensi:
1. Sikap estetis: merengguh sebanyak mungkin kenikmatan,
yang dikuasai oleh perasaan
2. Sikap etis: sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara
hati dan memberi arah pada hidupnya.
3. Sikap religius: berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian
karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diri-Nya
pada manusia.
Pernyataan
Parmenides hingga Hegel yaitu “Berpikir = Berada” ditolak oleh Kirkegaard menurutnya “Percaya itu = Menjadi”.
Manusia hidup dalam dua dimensi
sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua dimensi
itu bertemu dalam “saat”. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu.
Kita menjadi eksistensi dalam saat, yaitu saat pilihan.
Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggung jawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi
sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri.
Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.
Publik
bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka bukan realitas. Public menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata. Mengandalkan diri pada kekuatan numerik. Ini
adalah kelemahan etis. Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi
manusia untuk bergabung dengan yang lain. “Hanya setelah individu itu mencapai
sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak,
penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara
anak-anak”
Kedua mempelajari mengenai
eksistensialisme menurut Sartre.
Jean Paul Sartre lahir di
Paris, 21 Juni 1905. Tahun 1931-1936, dosen filsafat di Le Havre dan pada tahun
1941 menjadi tawanan perang. Ia banyak menulis karya filsafat dan sastra.
Dipengarahui Husserl dan heidegger.
Bagi Sartre,
manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia
berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. Bagi manusia
eksistensi mendahului esensi. Pemikiran filsafat
Sartre, tanggung jawab yang menjadi dari sekedar tanggung jawab terhadap
diri kita sendiri.
Berada dalam diri
= berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Sementara berada untuk diri=berada yang dengan sadar akan dirinya,
yaitu cara berada manusia.
Manusia
adalah kebebasan dan hanya sebagai makhluk yang bebeas dia bertanggung jawab. Tanpa
kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd.
Beberapa kenyataan yang mengurangi penghayatan kebebasan:
1. tempat kita berada
2. masa lalu
3. lingkungan sekitar
4. kenyataan adanya sesame manusia dengan
eksistensinya sendiri
5. maut
Kebebasan
eksistensial tidak bisa dikurangi atau ditiadakan.
Dalam
eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh
mengukuhkan kehadiran manusia.
Komunikasi =
suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali
orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang
seorang seolah-olah membekukan orang lain.
Cinta = bentuk
hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat
sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.
Sumber:
Dari
PPT dosen Universitas Tarumanagara fakultas Psikologi


Kereen 100 ya kin:*
BalasHapusBlog nya bgus kinss, ak ksih 100 yaa :)
BalasHapusBlognya bagus!!! Isinya juga singkat, padat, jelas, gua kasih 100 !!!!!
BalasHapus