Selasa, 07 Oktober 2014

Field Trip :)

Foto - foto Field Trip ke Kampung Betawi





Pertemuan 9: Manusia dan Etos Kerja

Pada hari Kamis, 2 Oktober 2014 fakultas saya mengadakan field trip ke Kampung Betawi disana saya mendapat banyak pelajaran yang salah satunya adalah kita dapat melihat kehidupan di kampung Betawi secara langsung dan nilai kehidupan yang dapat saya petik dari field trip ini yaitu apapun pekerjaan kita harus selalu kita syukuri dan harus dibawa senang dalam menjalaninya.

Sebelum ke Kampung Betawi, saya mengikuti perkuliahan dulu yaitu tentang Manusia dan Etos Kerja.
Definisi kerja adalah wadah bagi pembentukan diri manusia dalam membangun dunianya. Kerja atau pekerjaan merupakan segala kegiatan yang direncanakan, yang melibatkan pikiran dan kemauan yang sungguh-sungguh serta memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai.

Tiga dimensi kerja:
1.                  Dimensi Personal
2.                 Dimensi Sosial
3.                 Dimensi Etis

· Etos kerja
Menurut Usman Pelly, etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja.
Fungsi etos kerja adalah:
a.                  Pendorong timbulnya perbuatan
b.                  Penggairah dalam aktivitas
c.                  Penggerak, seperti mesin bagi mobil

· Kerja Bermartabat sebagai komitmen setiap organisasi untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif dan positif sedemikian rupa sehingga terbangun hubungan kerja yang manusiawi.

Sumber:
Bahan-bahan perkuliahan dari dosen Universitas Tarumanagara fakultas Psikologi.


Pertemuan ke 11: Filsafat Psikologi

Filsafat sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan termasuk psikologi memiliki hubungan dengan setiap disiplin ilmu.
Pada awal perkembangannya hingga abad 19 psikologi dikembangkan oleh para ahli filsafat yang kurang melandasi pengamatannya pada refleksi abstrak dan spekulatif.
Psikologi berpisah dengan filsafat, tetapi masih memiliki hubungan dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu terutama menyangkut sifat, hakekat dan tujuan ilmu pengetahuan.

Pendiri psikologi, Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di dunia adalah seorang ketua bagian filsafat di Universitas Leipzig Jerman. Tugas psikologi adalah mempelajari proses dasar manusia berupa pengalaman langsung, hubungan dan kombinasi pengalaman-pengalaman itu.
William James dengan aliran fungsionalismenya, James berpendapat psikologi harus meneliti secara mendalam bagaimana proses mental manusia itu berfungsi.
 
v     Elementisme / Struktualisme:

Ø     Wilhelm Wundt:
Wundt berusaha menemukan struktur (elemen-elemen penyusun) jiwa (struktualisme/elementisme) sedangkan James mencari fungsi dari jiwa (fungsionalisme).

v     Fungsionalisme:
Ø     William James
· Kesadaran adalah hasil evolusi
· Kesadaran sifatnya dinamis dan berubah-ubah
 









v     Behaviorisme
Ø     Ivan Pavlov:
· Aktivitas psikis = rangkaian refleks-refleks

v     Psikologi Gestalt
· Dimulai di saat yang hampir bersamaan dengan behaviorisme di Amerika Serikat
· Pelopor: Max Wertheimer
· Mempelajari Suatu gejala sebagai satu keseluruhan/totalitas

5 Aliran besar dalam psikologi
1.                  Humanistik: Salah satu tokohnya Carl Roger
2.                 Kognitif: Salah satu tokohnya Jean Piaget
3.                 Behavioral: Salah satu tokohnya Ivan Pavlov
4.                 Psikoanalistis: Salah satu tokohnya Sigmund Freud
5.                 Biologis: Salah satu tokohnya James Olds

Sumber:
Bahan-bahan perkuliahan dari dosen Universitas Tarumanagara fakultas Psikologi.




Sabtu, 04 Oktober 2014

Pertemuan ke 10: Eksistensialisme menurut Kierkegaard dan Sartre

Pada hari Jumat, 3 Oktober 2014 mempelajari mengenai eksistensialisme menurut Kierkegaard dan Sartre. Pertama mempelajari mengenai eksistensialisme menurut Kierkegaard.

Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas ditengah makhluk lainnya.
Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sbg eksistensi.
Secara etimologis, ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi adalah manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di luar diriku. Hanya manusialah bereksistensi.
Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tetapi lebih merupakan gaya berfilsafat. Tokoh yang menganut gaya eksistensialisme salah satunya adalah Kierkegaard dan Jean Paul Sartre. Satu hal yang sama adalah filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit.

Ciri-ciri eksistensialisme, motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi (menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan). Manusia dipandang terbuka contohnya masalah, masalah itu selalu ada dan semakin bertambah umur semakin ada aja masalah. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.

Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di Universitas Kopenhagen, tetapi tidak selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis.
Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme, aliran filsafat yang berkembang 50 tahun setelah kematiannya.

Pokok-pokok ajaran Kierkegaard, Ia mengkritik terhadap Hegel karena ada satu hal yang dilupakan Hegel adalah eksistensi manusia individual dan konkret. Eksistensi berarti bagi Kierkegaard yaitu merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
Ada tiga cara bereksistensi:
1.    Sikap estetis: merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan
2.   Sikap etis: sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya.
3.   Sikap religius: berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diri-Nya pada manusia.

Pernyataan Parmenides hingga Hegel yaitu “Berpikir = Berada” ditolak oleh Kirkegaard menurutnya “Percaya itu = Menjadi”.
Manusia hidup dalam dua dimensi sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dalam “saat”. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam saat, yaitu saat pilihan.

Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggung jawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.

Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka bukan realitas. Public menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.  Mengandalkan diri pada kekuatan numerik. Ini adalah kelemahan etis. Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain. “Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara anak-anak”

Kedua mempelajari mengenai eksistensialisme menurut Sartre.
Jean Paul Sartre lahir di Paris, 21 Juni 1905. Tahun 1931-1936, dosen filsafat di Le Havre dan pada tahun 1941 menjadi tawanan perang. Ia banyak menulis karya filsafat dan sastra. Dipengarahui Husserl dan heidegger.

Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Pemikiran filsafat Sartre, tanggung jawab yang menjadi dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.

Berada dalam diri = berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Sementara berada untuk diri=berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia.

Manusia adalah kebebasan dan hanya sebagai makhluk yang bebeas dia bertanggung jawab. Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd.

Beberapa kenyataan yang mengurangi penghayatan kebebasan:
1.    tempat kita berada
2.   masa lalu
3.   lingkungan sekitar
4.   kenyataan adanya sesame manusia dengan eksistensinya sendiri
5.   maut
Kebebasan eksistensial tidak bisa dikurangi atau ditiadakan.

Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.
Komunikasi = suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-olah membekukan orang lain.
Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.


Sumber:
Dari PPT dosen Universitas Tarumanagara fakultas Psikologi