Selasa, 11 November 2014

Final Project KBK Blok Penulisan Ilmiah

Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Remaja

Latar Belakang Masalah
    Beberapa negara mengalami peningkatan angka perceraian. Salah satu penyebab dari peningkatan angka perceraian ini biasanya karena masalah ekonomi keluarga dan pernikahan dini. Menurut Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA, kasus perceraian di Indonesia mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 jumlah perceraian yang diputus oleh pengadilan agama sebanyak 167.807 kasus, meningkat menjadi 213.960 kasus pada tahun 2008, dan 223.371 kasus pada tahun 2009 (Lestari, 2012).
     Perceraian dapat memberikan dampak terhadap anak mereka khususnya yang berusia remaja baik positif, seperti lebih dewasa dalam mengambil keputusan maupun negatif, seperti sering mengalami depresi. Dapat diketahui bahwa pentingnya memiliki keluarga yang utuh dalam mendidik anak remaja sehingga menjadi dewasa dengan dasar yang baik. Menurut Wallerstein dan koleganya yang dikutip dalam Priyatna (2010, h. 24), “Perkembangan selanjutnya pada remaja dari keluarga bercerai, nantinya setelah mereka tumbuh dewasa dan menikah pun cenderung mengikuti jejak orangtuanya dahulu.” Oleh karena itu, penulis memilih untuk membahas mengenai dampak perceraian orangtua terhadap remaja.

Pengertian Perceraian
      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perceraian adalah perpisahan, perpecahan, dan peristiwa bercerai antara suami dan istri (Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Menurut Kitab Undang-Undang Perdata, perceraian adalah gugatan yang harus diajukan kepada Pengadilan Negeri. Perceraian perkawinan harus di setujui bersama. Dengan bubarnya perkawinan karena perceraian, anak-anak tidak kehilangan haknya yang telah di jaminkan bagi mereka oleh undang-undang (Hanifah, 2014).

Dampak Perceraian
     Dampak perceraian terhadap psikologis remaja. Banyak diantaranya remaja berubah dan berpegang pada pola perilaku sebelumnya yang mirip dengan anak kecil karena perceraian orangtuanya yang membuat mereka cemas dan kehilangan rasa aman (Stahl, 2000/2004). Menurut Priyatna (2010), remaja sering merasa bahwa mereka penyebab perceraian orangtuanya.
     Dampak negatif tidak hanya di awal perceraian saja namun dapat berdampak di kemudian hari, seperti (a) sering merasa cemas, (b) lebih sering mengalami depresi dan stress, dan (c) sulit mengendalikan emosi (Priyatna, 2010). Menurut Kulka dan Weingarten dapat disimpulkan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang utuh lebih baik keseimbangan mentalnya daripada yang berasal dari keluarga yang bercerai (Sarwono, 2005). Menurut Priyatna (2010), di dalam perceraian juga terdapat dampak positif bagi remaja, seperti (a) perkembangan yang baik pada pertumbuhan mentalnya, (b) lebih mengerti dalam masalah keuangan, dan (c) mendapatkan peluang untuk membuat sebuah keluarga baru yang lebih baik dari sebelumnya.
     Dampak terhadap perilaku remaja. Menurut Stahl (2000/2004), “Tugas utama remaja adalah mengembangkan kemandirian yang lebih besar dan keterpisahannya dari keluarga. Banyak remaja yang memiliki sifat melawan dan negatif.” Orangtua yang bercerai dan memiliki anak usia remaja maka berkemungkinan besar anak menjadi lebih ke arah negatif seperti yang dikatakan Stahl.
     Menurut Priyatna (2010), pada saat remaja mengetahui orangtuanya akan bercerai remaja biasanya memperlihatkan perilaku, seperti (a) perilaku yang lain dari biasanya, (b) merasa dirinya dipaksa untuk tumbuh dewasa lebih dini, dan (c) mulai berpikir seperti orangtua. Remaja dari keluarga bercerai akan cenderung menjadi (a) kurang prososial, (b) menarik diri dari kenyataan, dan (c) lebih mudah terjerumus dalam penyalahgunaan dan terlibat dalam aksi kenakalan (Priyatna, 2010). Jadi, dapat disimpulkan bahwa dampak perceraian terhadap psikologis remaja sampai ke perilaku remaja itu dapat beragam.
     Dampak terhadap hubungan antara orangtua dan remaja. Ada remaja yang semakin dekat dengan orangtuanya yang mungkin karena mereka mengalami emosi yang sama. Ada remaja yang semakin dekat dengan saudara kandungnya sendiri karena sementara anak seolah tidak mau mengenal lagi orangtuanya. Ada pula remaja yang semakin renggang dengan semuanya (Priyatna, 2010).
Menurut Stahl (2000/2004):
Banyak remaja yang menghindari kedua orangtuanya setelah perceraian, khususnya apabila kedua orangtuanya membebani mereka dengan konflik kesetiaan dan masalah-masalah orang dewasa. Sejumlah remaja tidak ingin terlalu melibatkan diri atau sama sekali tidak ingin berhubungan dengan salah satu orangtuanya. Kemungkinan ini merupakan keterasingan yang sengaja diciptakan untuknya oleh salah satu orangtua. (h. 69)
     Penanggulangan terhadap hubungan antara orangtua dan remaja. Menanggulangi hubungan antara orangtua dan anak dapat dengan cara, seperti (a) selalu melakukan komunikasi terhadap remaja, (b) mendukung remaja dan memberi kesempatan bertemu dengan ayah atau ibu kandung, (c) mendidiknya dengan benar, dan (d) siap membantunya pada saat remaja mendapat masalah (Priyatna, 2010). Jadi, dapat disimpulkan bahwa dampak yang terjadi dapat di tanggulangi dengan cara yang baik oleh orangtua kepada anaknya tersebut.
     Dampak terhadap pendidikan remaja. Perceraian dapat memberi dampak terhadap pendidikan remaja contohnya dalam aktivitas belajar. Menurut Priyatna (2010), tugas-tugas sekolah pun bisa turut tebengkalai. Menurut Stahl (2000/2004), sesungguhnya remaja yang sehat akan berfungsi dengan baik di sekolah, memiliki rasa percaya diri, dan hubungan dengan teman-temannya yang positif. Mereka berkomunikasi dengan orangtuanya membuat rencana untuk kuliah dan karier mereka selanjutnya.
     Perceraian dapat membuat remaja menjadi khawatir dan pada akhirnya malas untuk belajar karena terganggu dengan pemikiran orangtuanya akan bercerai. Adakalanya remaja menjadi terlibat dalam kenakalan remaja atau sebaliknya, remaja menjadi lebih rajin belajar karena ingin menjadi lebih baik untuk masa depannya.
     Dampak terhadap masa depan remaja. Orangtua yang bercerai akan merasa khawatir dengan masa depan anaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa depan remaja bergantung pada gender, kepribadian remaja, dan dukungan yang diterima remaja dari orangtua maupun teman-temannya yang juga berhubungan dengan masa depan remaja (Priyatna, 2010). Menurut Wallerstein dan koleganya yang dikutip dalam Priyatna (2010, h. 24), “Perkembangan selanjutnya pada remaja dari keluarga bercerai, nantinya setelah mereka tumbuh dewasa dan menikah pun cenderung mengukuti jejak orangtuanya dahulu yaitu sama-sama mengalami perceraian!”
    Penanggulangan terhadap masa depan remaja. Menurut Priyatna (2010), orangtua yang bercerai dapat menanggulangi masa depan remaja dengan cara, seperti (a) memberi dukungan terhadap anak, (b) siap membantu masalah yang dihadapi anak, (c) memberi semangat terhadap anak, dan (d) menerapkan disiplin yang wajar terhadap anak. Dukungan dari orangtua dapat membuat remaja tidak akan merasa khawatir dengan dirinya yang dapat saja merusak masa depannya.

Simpulan
     Jadi, perceraian dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap anak. Dampak negatif tersebut dapat diatasi oleh orangtua agar anak tetap melakukan hal yang baik dan positif untuk masa depannya.

Saran
     Saran yang dapat penulis berikan kepada pembaca adalah sebaiknya orangtua tidak membuat keputusan perceraian karena dapat menimbulkan dampak terhadap anak mereka. Perlu diketahui setiap anak memiliki kepribadian dan tanggapan yang berbeda-beda. Dampaknya anak dapat melakukan ke hal yang positif atau negatif. Jika perceraian memang tetap dilakukan, orangtua tetap harus mendidik dan memberi dukungan terhadap anaknya ke hal yang baik untuk masa depan anak.    


Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia pusat bahasa (4th ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hanifah, I. (Ed.). (2014). Himpunan lengkap KUHPer (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Yogyakarta: Laksana.
Lestari, S. (2012). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Priyatna, A. (2010). Focus on children!: Membahas topik-topik yang wajib diketahui seputar: Efek perceraian, co-parenting, step-parenting, dan orang tua tunggal. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi remaja. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Stahl, P. M. (2004). Menjadi orang tua setelah perceraian: Pedoman untuk menyelesaikan konflik dan cara untuk memenuhi kebutuhan putra-putri anda (U. Gyani, Penerj.). Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. (Karya asli diterbitkan tahun 2000)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar